Amankan Keuangan Anda Sebelum DiPHK

Amankan Keuangan Anda Sebelum DiPHK

2017-04-03 16:31:45

Masalah keuangan memang selalu mengikuti kasus-kasus PHK. Maklum, lantaran tidak lagi bekerja, orang yang terkena PHK otomatis tidak memiliki pemasukan. Sementara, pengeluaran tiap bulan terus jalan. Karena itulah para perencana keuangan selalu menyarankan setiap keluarga memiliki dana darurat sekitar enam kali pengeluaran rutin per bulan. Dus, saat pemasukan keluarga terhenti, keluarga tadi bisa bertahan hingga mendapat sumber pemasukan baru.

Yang jadi masalah, masih banyak orang di Indonesia yang tidak terlalu peduli dengan dana darurat. Alhasil, saat tulang punggung keluarga kehilangan penghasilan, keluarga tadi tidak memiliki dana darurat yang cukup, atau bahkan tidak memiliki dana darurat sama sekali. “Padahal, saat seseorang terkena PHK, maka dia dan keluarganya akan masuk dalam survival era,” kata Mike Rini, perencana keuangan sekaligus Chief Executive Officer (CEO) MRE Financial & Business Advisory.

Dana Pesangon

Lalu, bagaimana sebaiknya pengaturan keuangan keluarga saat pencari nafkah di keluarga terkena PHK sementara dana darurat tidak ada atau tidak mencukupi? Dalam kondisi tersebut, keuangan keluarga untuk sementara terpaksa bergantung pada pesangon yang diberikan perusahaan.

“Itu yang dipakai untuk membiayai pengeluaran keluarga,” kata Taufik Gumulya, perencana keuangan sekaligus CEO TGRM Financial Planning Services. Besaran dana pesangon ini tentu berbeda-beda, tergantung dari masa kerja dan gaji si karyawan ketika bekerja.

Berdasarkan UU No 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, besaran uang pesangon itu antara satu kali hingga sembilan kali gaji karyawan, bergantung pada masa kerja. Contoh, masa kerja delapan tahun ke atas memperoleh pesangon 9 kali gaji. Selain dana pesangon, perusahaan juga harus memberikan uang penghargaan masa kerja. Besarnya antara dua kali hingga sepuluh kali upah pegawai, bergantung masa kerja. Pegawai dengan masa kerja 24 tahun ke atas berhak menerima uang penghargaan masa kerja sebesar sepuluh kali gaji.

Tentu saja, dana pesangon tersebut tidak boleh digunakan sembarangan. Agar dana pesangon bisa mencukupi kebutuhan keuangan keluarga selama belum menemukan pekerjaan baru, buatlah prioritas penggunaan dana. Agar bisa melakukan alokasi dana secara tepat, ada empat hal yang harus Anda perhitungkan. Pertama, berapa total dana pesangon yang Anda terima dari perusahaan. Kedua, berapa besar dana darurat alias emergency fund yang sudah dimiliki. Ketiga, berapa besar pengeluaran rutin keluarga setiap bulannya. Keempat, berapa besar sisa utang yang masih harus dibayarkan.  Setelah mengetahui poin-poin tersebut, Anda bisa menyusun prioritas penggunaan keuangan keluarga selama masa tidak ada pemasukan.

Pengeluaran Rutin

Kalau Anda sama sekali belum memiliki emergency fund untuk memenuhi kebutuhan keluarga selama tidak memiliki pekerjaan, prioritas pertama penggunaan dana adalah untuk pos pengeluaran rutin. “Besarnya sekitar enam kali pengeluaran per bulan,” sebut Mike. Tentu saja, ini dengan asumsi enam bulan setelah PHK, si pencari nafkah sudah menemukan sumber penghasilan baru.

Bagaimana kalau ternyata sampai lebih dari enam bulan pencari nafkah di keluarga belum menemukan pekerjaan baru? Atau, bagaimana kalau dana pesangon yang diterima mepet sehingga sulit memenuhi enam bulan dana pengeluaran rutin?

Untuk mengatasi hal-hal tersebut, cobalah menurunkan sedikit standar hidup. Misalnya, bila sebelumnya keluarga tersebut menikmati beras seharga di atas Rp 10.000 per kilogram, selama masa survival bisa mengonsumsi beras yang lebih murah. Dus, pengeluaran bulanan bisa ditekan. Namun, bila Anda sudah memiliki dana darurat tapi jumlahnya belum mencukupi, prioritas penggunaan dana pesangon adalah mencukupi jumlah dana darurat yang sudah tersedia. Misalkan, dana darurat yang sudah ada hanya cukup untuk kebutuhan pengeluaran rutin selama dua bulan, dana pesangon bisa digunakan untuk menutup kekurangan sehingga keluarga memiliki dana untuk kebutuhan hidup hingga enam bulan berikutnya.

Pelunasan utang

Setelah menyisihkan dana untuk kebutuhan rutin bulanan, alokasikan juga sebagian dana untuk pembayaran utang. Bila uang pesangon yang diterima cukup besar dan keluarga tersebut masih memiliki utang konsumtif, ada baiknya lunasi segera utang tersebut. “Utang kartu kredit kalau bisa harus dibayar lunas,” kata perencana keuangan Pandji Harsanto. Adapun untuk utang jangka panjang, seperti KPR atau kredit kendaraan, Anda bisa menyesuaikan dengan sisa dana pesangon yang tersedia serta besar cicilan utang yang harus dibayar.

Bila Anda menerima pesangon cukup besar dan nilainya cukup untuk melunasi sisa utang yang ada, Anda bisa menggunakan dana yang ada untuk melunasi utang. Tapi, Anda juga bisa memilih tetap membayar cicilan utang secara bulanan seperti sebelumnya, terutama bila sisa dana pesangon yang tersedia masih belum cukup untuk melunasi seluruh sisa utang.

Bila Anda memilih tetap membayar cicilan utang secara bulanan seperti sebelumnya, Anda harus membuat alokasi dana untuk pembayaran utang. “Besarannya sama dengan alokasi untuk emergency fund, yaitu setara pembayaran cicilan utang untuk enam bulan,” kata Mike.

Bagaimana bila dana pesangon yang diterima tidak mencukupi untuk memenuhi biaya kebutuhan rutin dan pembayaran cicilan utang selama enam bulan ke depan? Dalam hal ini, ada dua cara yang bisa diambil.

 Pertama, Anda terpaksa menjual aset yang Anda miliki. Pastikan agar aset yang dilepas tidak mengganggu kehidupan keluarga. Misalnya, bila tidak benar-benar terpaksa, jangan sampai menjual rumah yang jadi tempat tinggal. Kedua, bila penjualan aset masih tidak mencukupi, Anda terpaksa harus kembali berutang. Cuma, jangan cari utang yang berbunga. Anda sebaiknya berutang ke keluarga atau teman.

“Jadi, nanti dia tidak harus terikat dengan waktu pengembalian utang yang ketat dan juga tidak harus membayar bunga utang,” tandas Pandji. Namun, para perencana keuangan menegaskan, langkah menjual aset dan mencari utang ini sebaiknya tidak dilakukan bila masih bisa dihindari.

Proteksi dan investasi

Kalau masih ada dana setelah alokasi untuk kebutuhan rutin dan cicilan utang terpenuhi, dana tersebut bisa digunakan untuk proteksi. Taufik menuturkan, saat masa sulit pasca- PHK, asuransi utama yang paling dibutuhkan adalah yang meng-cover kematian. Dengan demikian, saat pencari nafkah utama wafat, keuangan keluarga terlindungi.

Bila dana sisa pesangon jumlahnya terbatas, carilah asuransi jiwa yang juga meng-cover biaya pengobatan atas penyakit berat. Dengan demikian, Anda tidak perlu lagi repot memikirkan biaya pengobatan jika suatu saat terpaksa masuk rumah sakit lantaran menderita penyakit kategori berat.

Namun, bila sisa dana pesangon masih cukup besar, Anda juga bisa membeli asuransi kesehatan. Sisa dana pesangon juga bisa digunakan untuk berinvestasi. Tentu saja, karena keuangan keluarga masih dalam kondisi gawat akibat PHK, jangan sembarangan memilih investasi. Mike menuturkan, dalam kondisi terkena PHK, instrumen investasi yang cocok haruslah memiliki tiga karakter.

Pertama, instrumen investasi ini likuid. Dengan demikian, saat Anda membutuhkan dana cepat, Anda bisa mencairkan dana investasi dengan mudah. “Selain itu, modal awal juga akan tidak hilang,” imbuh Mike. Kedua, besar imbal hasil yang diberikan di atas inflasi. Ketiga, hasil dari investasi tersebut bisa jadi passive income. Dengan demikian, Anda juga bisa memanfaatkan hasil investasi ini untuk kebutuhan jangka panjang, misalnya dana pendidikan anak di masa depan.

Dengan mempertimbangkan karakter tersebut, instrumen investasi yang paling cocok saat Anda baru saja terkena PHK adalah reksadana pasar uang.

Ubah gaya hidup

Dalam kondisi pencari nafkah keluarga terkena PHK, keluarga tersebut harus siap mengubah gaya hidup. Ambil contoh, bila sebelum PHK keluarga tersebut terbiasa makan di luar paling tidak sekali setiap bulan, setelah PHK keluarga tersebut harus bisa keluar dari kebiasaan tadi. Selain itu, seluruh anggota keluarga harus bisa menahan diri untuk tidak konsumtif. “Karena hal ini butuh kerjasama dari seluruh anggota keluarga, kepala keluarga harus melakukan komunikasi secara terbuka sehingga seluruh anggota keluarga paham,” kata Pandji.

Yang pasti, agar Anda dan keluarga tidak panik dan kelimpungan saat terkena pemutusan hubungan kerja, para perencana keuangan menyarankan agar sudah menyiapkan dana darurat sedari awal. Dengan demikian, saat Anda kehilangan mata pencaharian, keuangan keluarga juga tidak terlalu terganggu. Nah, berdoa saja semoga Anda tidak harus sampai mengalami PHK, ya.[]